Friday, 23 October 2015

Si Manis Gula Semut (Brown Sugar)

Gula aren atau lebih dikenal luas sebagai gula merah dihasilkan oleh nira dari pohon enau atau aren. Pengolahannya masih dilakukan secara sederhana oleh masyarakat Indonesia. Gula aren telah banyak digunakan baik dalam skala rumah tangga maupun industri, misalnya industri kecap dan jamu instan. Bentuk dari gula aren sangat beragam tergantung dari daerah penghasil gula tersebut, misalnya bentuk silinder kecil maupun besar, bentuk setengah lingkaran, dan lain-lain. Gula aren dalam bentuk tersebut memiliki kadar air yang relatif masih tinggi, sehingga rentan terhadap kerusakan oleh kapang dan bakteri pemecah gula.

Gula Aren
Gula aren memiliki kandungan gula monosakarida dalam bentuk fruktosa dengan kemanisan 27 kali lebih rendah dari sukrosa (gula pasir). Gula aren memiliki kandungan vitamin B komplek dan mineral kalsium. Kalori yang disumbangkan dari gula aren relatrif tinggi, yaitu sekitar 368 kKal/100 g gula. Namun gula aren memiliki keunggulan dari gula pasir, yaitu indeks glikemik yang rendah (gula aren IG 35 dan gula pasir IG 58). Indeks  glikemik merupakan kemampuan untuk meningkatkan gula darah setelah dikonsumsi. Ketika gula aren dikonsumsi, maka tubuh akan menyerap secara perlahan sehingga gula darah tidak meningkat secara signifikan. Gula aren baik dikonsumsi untuk penderita penyakit degenerative (jantung, darah tinggi, diabetes, dll) dengan jumlah yang terkontrol.

Jenis karbohidrat mempengaruhi gula darah (www.sehatsetiaphari.com)
Seiring dengan berkembangnya teknologi pengolahan pangan dan kebutuhan pasar, maka gula aren di inovasi menjadi gula semut (brown sugar). Bahan dan pengolahan gula semut sama dengan gula aren balok, perbedaannya hanya pada bentuk dan kandungan air. Kandungan air pada gula semut lebih kecil, sehingga lebih awet dan tidak mudah rusak. Pengolahan gula semut dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama langsung menggunakan nira aren yang diolah hingga mengkristal, namun kelemahan terletak pada bahan pengotor yang tidak terkontrol. Cara yang ke dua adalah menggunakan gula aren organik dengan kualitas yang baik. Jika menggunakan bahan baku gula dengan kualitas jelek, maka gula semut yang dihasilkan akan berwarna gelap dan tidak terkristalisasi sempurna.

Gula aren organik kualitas premium
Kami menggunakan cara yang kedua untuk membuat gula semut. 

Pertama yang harus dilakukan adalah mengecilkan ukuran gula aren agar waktu untuk pencairan dapat dipersingkat. Gula aren dimasukkan kedalam wajan dan ditambahkan air kapus sirih yang telah diendapkan sebanyak 10%, yaitu 1 kg gula ditambah air kapur bening sebanyak 100 ml. penambahan air kapur bertujuan agar pH gula menjadi netral (ph 6.5), jika pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka warna yang dihasilkan akan lebih gelap. Dapat pula ditambahkan kulit manggis kering (opsional) sebagai antioksidan dan mempertajam aroma. Kemudian ditambahkan air lagi sebanyak 500 ml.

Pemasakan gula aren
Gula dipanaskan dengan api sedang dan diaduk secara berkala agar panas merata. Penggunaan api besar akan membuat gula terkaramelisasi. Gula dipanaskan hingga mendidih dan kadar air berkurang. Ciri-cirinya adalah larutan gula menjadi kental dan terbentuk busa yang banyak. Dalam kondisi ini larutan gula harus terus diaduk hingga Kristal gula mulai terbentuk.

Larutan gula pekat
Selanjutnya api dimatikan untuk mencegah karamelisasi gula dan kristal gula ditekan (digerus) dengan cepat menggunakan punggung spatula hingga kristal gula berukuran lebih halus.

Kristal gula terbentuk
Kristal gula dapat diayak sesuai dengan ukuran yang diinginkan (standar 150 mesh). Mesh merupakan ukuran untuk jenis tepung-tepungan, 1 inchi (2,56 cm) terdapat beberapa lubang/mesh.

Pengayakan
Sisa kristal padat yang tidak lolos ayakan, maka dilakukan penghalusan dapat menggunakan lumpang, blender, atau mesin tepung yang kemudian dilakukan pengayakan lagi. Untuk mendapatkan gula semut yang benar-benar kering, dapat dikeringkan dengan oven maupun sinar matahari agar umur simpan gula semakin lama.

Sisa kristal padat yang tidak lolos ayakan

Thursday, 22 October 2015

Jam, Jelly, dan Marmalade

Negara Indonesia sangat kaya akan hasil pertanian, sehingga tidak heran jika musim buah selalu ada setiap musim sepanjang tahun. Panen buah yang mellimpah, terutama buah dengan umur simpan pendek akan menjadi masalah tersendiri untuk petani dengan daya jangkau yang rendah terhadap pasar. Selain dipasarkan dalam bentuk segar, buah juga dapat diawetkan dengan berbagai cara, misalnya dengan dibuat selai (selai), jelly, dan marmalade. Pengolahan terhadap hasil pangan juga membuat nilai dari buah tersebut meningkat.

Buah Lokal Indonesia (www.fp.unud.com)
Pengolahan pangan menjadi selai, jelly, dan marmalade mengandalkan gula dan asam sebagai pengawet. Gula yang digunakan tidak kurang dari 50% total bahan. Jam dibuat dari daging buah yang dihaluskan dan ditambahkan pengental pectin dan asam yang bisa didapatkan dari sekitar. Jam memiliki tekstur serat halus buah, lepas, dan lembut. Total padatan terlarut pada jam mencapai 65%. Pemasakan jam menggunakan api sedang agar tidak terjadi karamelisasi dan buah matang dengan sempurna. Pada pembuatan jam skala industry ditambahkan Na benzoate maksimal 1000 ppm untuk mencegah tumbuhnya kapang, khamir, dan bakteri perusak lainnya.

Selai Pala
Jelly dibuat dari buah yang hanya diambil sarinya, pembuatan jelly sedikit lebih sulit dibanding selai. Jika pemanasan sari buah dan gula terlalu lama maka akan menjadi permen, dan jika kurang lama akan menjadi sirup. Sehingga sangat perlu keahlian khusus dalam pembuatan jelly. Tekstur jelly yang bagus adalah bening, mudah dioles, dan tidak terdapat serat buah. Pembuatan jelly yaitu dengan menghaluskan buah, kemudian diambil sarinya. Sari buah didiamkan selama 1 jam untuk mendapatkan sari buah yang benar-benar bening. Kemudian sari buah diproses menjadi jelly dengan total padatan terlaru minimal 65%. Perbandingan dalam pembuatan jelly adalah buah : gula = 45:55.

Jelly Nanas (www.Beritasatu.com)
Marmalade hampir menyerupai jelly, namun terdapat potongan buah didalamnya, misalnya potongan kulit jeruk atau nanas. Dalam pembuatan marmalade penambahan air tiga kali lebih banyak untuk membuat tektur potongan buah yang ditambahkan matang sempurna dan lembut.
 
Marmalade Jeruk ( www. chileunderground.com)
Pada pembuatan jam, jelly, dan marmalade penambahan pectin sangat diperlukan untuk membuat tekstur menjadi kental. Pectin merupakan jenis pati (polisakarida) yang akan mengental jika bereaksi dengan air dan asam. Secara alami pekti terdapat dalam buah yang belum matang (mengkal), yaitu terletak antara daging buah dan kulit. Dalam pengolahan jam dan jelly secara sederhana, pectin didapatkan dari kulit buah papaya yang masih muda dengan cara di iris tipis kulit buah kemudian dihaluskan bersama dengan buah yang akan dibuat. Untuk memaksimalkan kerja pectin, maka pH dikondisikan menjadi rendah (<4.5) dengan ditambahkan asam sitrat atau jeruk nipis.

Monday, 12 October 2015

Emas dari Negeri Garuda, Pala (Myristica fragrans)

Buah Pala
Sejak masa kependudukan Belanda di Indonesia, pala merupakan salah satu primadona bangsa Eropa. Tumbuhan asli kepulauan Banda, Maluku tersebut memiliki sejuta pesona yang tetap terjaga hingga sekarang. Mengutip dari ungkapan Giles Milton yang mengawali bukunya yang berjudul Nathaniels Nutmeg “The island can be smelled before it can be seen” yang kurang lebih memiliki arti Pulau Banda dapat tercium wanginya sebelum ia terlihat. Dapat dibayangkan betapa luar biasanya pala pada saat itu yang memiliki harga lebih mahal dari emas.

Pohon Pala (satwa.net)
Daging Buah Pala
Pala merupakan tumbuhan berupa pohon dan berumah dua, yaitu pohon jantan dan pohon betina. Pala akan mulai berbuah pada usia penanaman pohon Memiliki daun berbentuk elips langsing dan buah berbentuk bulat lonjong. Daging buah masak memiliki ketebalan 0.5 cm, rasa asam, dan aroma khas pala karena kandungan minyak atsiri. Biji pala berwarna coklat terbungkus fuli berwarna merah.  Pohon pala akan mulai berbuah pada usia penanaman 7-10 tahun dan mencapai produksi optimum selama 25 tahun.
Inovasi daging buah pala
Pala memiliki nilai ekonomi yang optimum, artinya seluruh bagian dari pala dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pohon yang berupa kayu (kino) dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, kulit batang dan daun dapat menghasilkan minyak atsiri, daging buah dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam jenis makanan dengan bantuan teknologi pangan modern, fuli atau mace dan biji pala memiliki kandungan minyak atsiri dengan rendemen yang tinggi sekitar 7-14% yang dapat dimanfaatkan untuk kosmetik, minyak wangi, dan sabun di negara Eropa. Manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh tubuh adalah dapat membantu meringankan rasa sakit, memberikan efek relaksasi pada syaraf, dan meringankan inflamasi (peradangan) pada luka internal maupun eksternal.  Menurut para ahli, pala juga memiliki efek psikotropik, yaitu menimbulkan halusinasi (berkhayal) akibat dari kandungan miricytin. Indonesia merupakan negara pengekspor pala dan fuli tertinggi, yaitu sekitar 85% dari Indonesia dan sisanya dari Grenada, India, Srilanka, dan Papua.

Thursday, 1 October 2015

Keunikan dan Pesona Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.)

Pohon Secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan jenis tanaman polong-polongan yang banyak hidup di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Termasuk jenis pohon perdu dengan batang berbentuk silinder kecil hingga medium. Memiliki warna kulit kayu coklat cerah dengan getah kayu berwarna merah. Pohon secang tumbuh pada daerah dengan curah hujan sedang hingga tinggi. Ia dikenal dengan berbagai nama, seperti seupeueng (Aceh), sepang (Gayo), sopang (Toba), lacang (Minangkabau), secang (Sunda), secang (Jawa), secang (Madura), sepang (Sasak), supa (Bima), sepel (Timor), hape (Sawu), hong (Alor), sepe (Roti), sema (Manado), dolo (Bare), sapang (Makasar), sepang (Bugis), sepen (Halmahera selatan), savala (Halmahera Utara), sungiang (Ternate), roro (Tidore), sappanwood (Inggris), dan suou di Jepang (Wikipedia.org).
Batang kayu secang (infosehat.org)
Daun, bunga, dan buah secang (wikipedia.org)
Kulit kayu secang dimanfaatkan sebagai minuman penyegar dan obat-obatan. Warna merah cerah dari kulit secang membawa daya tarik sendiri bagi para pecinta herbal. Rasa dari air seduhan kayu secang tidak terlalu kuat, perpaduan antara manis, asin, dan pahit. Penyeduhan kayu secang secara sederhana adalah dengan memasukkan tiga helai tipis kayu secang kedalam segelas air hangat, dapat ditambahkan gula atau madu untuk menambah rasa. Warna secang yang menarik dan pekat dapat juga digunakan sebagai pewarna alami untuk makanan dan tekstil. Warna air seduhan kayu secang dapat digunakan sebagai indicator pH (keasaman), pada pH normal warna secang merah terang, pH basa warna menjadi orange, dan pH asam secang berwarna kuning terang.

Herbal kayu secang
Secang memiliki manfaat kesehatan yang sangat banyak. Kayu secang memiliki kandungan senyawa berupa brazilin, sappanin, brazilein, dan minyak atsiri seperti D-α-felandrena, asam galat, osinema, dan damar. Berdasarkan hasil penelitian Lim et al., (1997), kayu secang memiliki daya antioksidan yang sangat kuat dengan indeks antioksidatif ekstrak air kayu secang lebih tinggi daripada antioksidan komersial (BHT dan BHA) sehingga potensial sebagai agen penangkal radikal bebas. Ekstrak etanolik kayu secang memiliki aktivitas antikanker dengan menurunkan viabilitas pada beberapa sel kanker payudara, kanker kolon, dan kanker serviks HeLa ( Rahmi et al. 2010).

Air seduhan Crystal tea kayu secang
Manfaat lain dari secang adalah meningkatkan kontraksi jantung, dapat meningkatkan aliran darah koroner dan meningkatkan sirkulasi mikro, memiliki efek sebagai obat penenang, memiliki efek antibakteri, memiliki efek anti-inflamasi (pembengkakan) dan anti-kanker, mengatasi nyeri menstruasi, menyembuhkan asma, menyembuhkan memar dan tetanus. Selain itu juga berguna untuk menyembuhkan sakit campak dan mengatasi kejang mulut dan luka terbuka (bramardianto 2014).


Tuesday, 29 September 2015

Si Cantik Bunga Telang (Clittoria ternatea)


Pohon bunga telang
Bunga telang (Clittoria ternatea) merupakan jenis tanaman polong-polongan merambat yang banyak tumbuh di seluruh wilayah di Indonesia.  Bunga telang memiliki beberapa warna, diantaranya putih, biru, ungu, dan merah. Tanaman ini secara luas ditanam sebagai tanaman hias pada pagar dan tralis karena warna bunganya yang biru atau bunga putih sangat mengesankan, dan ditanam juga untuk pewarna dan pengobatan. Bunga telang banyak mengandung fitokimia seperti antosianin, flavonoid, dan saponin yang bermanfaat untuk kesehatan, terutama untuk antioksidan. Bunga telang bermanfaat untuk melancarkan buang air kecil (diuretik), untuk obat mata, melancarkan haid, dan obat jerawat atau bisul (antibakterial). Clittoria ternatea mengandung finotin, isolasi protein tanaman ini dengan kekayaan biosidal mampu melawan hama serangga, cendawan dan bakteri. 
Bunga telang kering
Penggunaan bunga telang sebagai obat herbal dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dari dalam dan dari luar. Cara dari dalam yaitu dengan menyeduh lima helai bunga telang kering kedalam satu gelas air hangat. Rasa air seduhan bunga telang sedikit langu, sehingga dapat ditambahkan gula dan lemon untuk menikmatinya. Cara dari luar sebagai fungsi dari antibakterial dapat dilakukan dengan menumbuk halus akar dan bunga telang kemudian dibalurkan di atas luka atau memar.

Bunga telang biru
Penyajian bunga telang hingga saat ini masih sebatas diseduh secara manual, yaitu dengan cara dikeringkan kemudian diseduh dengan air hangat. Inovasi bunga telang sangat diperlukan untuk  memudahkan konsumsi dari bunga telang tersebut, seperti membuat dalam bentuk teh herbal instan, campuran dalam pembuatan kue kering, pudding, dan produk olahan lainnya. Dibeberapa negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand ekstrak dari bunga telang digunakan untuk pewarna nasi (blue rice). Penambahan Ekstrak bunga telang tidak mempengaruhi rasa. Warna dari bunga telang juga digunakan sebagai indikator pH (keasaman). Pada pH normal warna yang dihasilkan adalah biru, biru kehijauan pada pH basa, dan ungu pada pH asam. Manfaat ektrak bunga telang baru-baru ini juga telah dimanfaatkan sebagai shampo di Negara Thailand karena manfaatnya dalam menghitamkan rambut. 
Produk turunan dari Bunga Telang

Friday, 25 September 2015

Kegemukan dan Obesitas di Indonesia

Era globalisasi saat ini, semakin banyak orang menjalani perubahan gaya hidup dan pola makan. Hal ini menjadikan Indonesia menghadapi masalah gizi ganda. Di satu pihak masalah gizi kurang masih banyak ditemukan, namun di pihak lain masalah gizi lebih juga cenderung meningkat, terutama di kota-kota besar. Angka obesitas atau kegemukan di seluruh dunia meningkat dari tahun ke tahun. Di Jakarta, bahkan diperkirakan 10 dari 100 orang mengalami obesitas.
Obesitas (Ilustrasi, tokoalkes.com)

Kegemukan dan obesitas merupakan suatu keadaan dimana jumlah energi yang dikonsumsi lebih banyak daripada energi yang digunakan, sehingga kelebihan energi akan disimpan dalam jaringan tubuh dalam bentuk lemak. Hal ini ditandai dengan peningkatan indeks massa tubuh (IMT) di atas normal (gizi lebih IMT ≥25.0 - <27.0, obesitas IMT ≥27.0) 
Indikator status gizi (www.labsatu.com)
Penyebab gizi lebih bersifat multifaktor, yaitu genetik, perubahan pola makan, pendidikan, pendapatan, perkembangan teknologi, aktifitas fisik, psikologis, dan lingkungan. Teknologi yang semakin berkembang menyebabkan orang cenderung malas bergerak dan menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk duduk dan makan. Pengaruh media juga menyebabkan orang lebih memilih untuk mengkonsumsi makanan cepat saji atau fast food. Selain cepat, mudah diakses, dan lebih nikmat juga terdapat anggapan mengkonsumsi makanan cepat saji meningkatkan derajat sosial.
Junk food peenyebab obesitas (segiempat.com)
Masalah gizi lebih di Indonesia saat ini, bukan hanya terjadi pada orang dewasa namun juga pada balita, anak-anak, dan remaja. Peningkatan angka kegemukan dan obesitas cenderung terjadi pada masyarakat yang tinggal diperkotaan. Hal ini karena akses, pengaruh lingkungan, dan pendapatan yang lebih tinggi daripada masyarakat di pedesaan. Menurut Riskesdas (2013), prevalensi penduduk laki-laki dewasa obesitas (>18 tahun) pada tahun 2013 sebanyak 19,7 %, tahun 2007 (13,9%) dan tahun 2010 (7,8%), sedangkan prevalensi obesitas perempuan dewasa obesitas (>18 tahun) tahun 2013 (32,9%), tahun 2007 (13,9%) dan tahun 2010 (15,5%). Hal ini menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun secara nasional jumlah penduduk Indonesia obesitas semakin meningkat secara signifikan. 
Lucu atau kasihan? (duniaanak.org)
Gizi lebih akan berpengaruh pada masalah kesehatan, sosial, ekonomi, dan psikologi. Obesitas merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya berbagai penyakit degeneratif  yang sulit dan bahkan tidak dapat disembuhkan. Beberapa penyakit yang dapat diakibatkan karena obesitas misalnya penyakit jantung, pembuluh darah, kanker, diabetes mellitus, dan gangguan metabolisme tubuh lainnya karena asupan lemak dan karbohidrat berlebih namun kurang serat, vitamin, dan mineral . Memiliki bentuk tubuh yang tidak ideal juga menyebabkan perasaan tidak percaya diri, kesulitan untuk bergaul, dan sulit mendapatkan pekerjaan.
Penyakit yang dapat diakibatkan oleh obesitas (www.informationaboutdiabetes.com)

Kegemukan yang berlanjut pada obesitas akan mengakibatkan masalah yang akan terus terjadi layaknya siklus yang tidak berujung. Namun, masalah ini dapat di atasi jika salah satu rantai dicegah. Hal yang sederhana yang dapat dilakukan misalnya dengan mengubah pola makan dan meningkatkan aktifitas fisik. Mengkonsumsi makanan sehat dengan gizi yang seimbang akan menurunkan resiko terjadinya berbagai macam penyakit degeneratif, sehingga kualitas hidup akan  meningkat. Aktifitas fisik misalnya dengan olahraga sederhana dapat membantu pembakaran energi sehingga keseimbangan antara konsumsi dan penggunaan energi dapat tercapai. 
Cycle of Obesity (quitchildhoodobesity.wordpress.com)

Lebih Dekat dengan Teh Hijau (Camellia sinensis)

Pernahkah anda melihat tradisi minum teh di beberapa negara di dunia? Jika belum pernah, cobalah melihat melalui youtube maupun media lainnya mengenai beberapa tradisi minum teh di negara Rusia , Belanda, Jepang, Irak, Tibet, Tiongkok, atau bahkan di negara kita sendiri Indonesia. Setiap negara memiliki penamaan khusus untuk tradisi tersebut, misalnya di Jepang disebut cha no yu, di Cina disebut chayi, dan di Indonesia juga terdapat tradisi minum teh, seperti teh poci, teh nasgitel, dan teh telur (Kompas 2014).
Teh Hijau
Teh yang digunakan untuk tradisi dan upacara tersebut beraneka ragam jenisnya. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih. Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak dan karbohidrat mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh. Rasa sepat menunjukkan kandungan tanin pada teh. Tanin merupakan salah satu senyawa fitokimia yang bermanfaat sebagai antioksidan dan penurunan profil lipid (lemak) (Wungkana et. al 2013). Potensi antioksidan teh lebih kuat dibandingkan dengan antioksidan yang terdapat pada buah-buahan dan sayur-sayuran.Teh hitam banyak dikonsumsi oleh penduduk Eropa, teh oolong banyak dikonsumsi oleh penduduk Cina dan Taiwan, sedangkan teh hijau banyak dikonsumsi oleh penduduk Asia, termasuk Indonesia (Wardiyah et al. 2013).
Teh hijau berasal dari pucuk daun teh yang langsung diproses setelah dipetik. Setelah daun mengalami oksidasi dalam jumlah minimal (tanpa fermentasi), proses oksidasi dihentikan dengan pemanasan (cara tradisional Jepang dengan uap atau Tiongkok dengan menggongseng di atas wajan panas). Teh yang sudah dikeringkan dapat dibentuk lembaran daun teh atau digulung rapat berbentuk seperti bola-bola kecil (gun powder). Ranting atau daun teh yang dipetik dalam pengolahan adalah ranting peko dan ranting burung. Ranting peko merupakan ranting yang masih kuncup dan akan menghasilkan teh hijau dengan kualitas lebih baik daripada ranting burung yang tidak memiliki kuncup dan telah terpotong bagian kuncup.
Bagian daun teh yang dibuat untuk teh hijau
Teh hijau memiliki banyak sekali manfaat untuk kesehatan tubuh. Teh hijau dapat mencegah serangan influenza. Bahkan minuman dari pucuk daun Camelia sinensis ini dapat memperkuat gigi, melawan bakteri dalam mulut, mencegah terbentuknya plak gigi, serta mencegah osteoporosis. Dalam saluran pencernaan, teh juga membantu melawan keracunan makanan dan penyakit seperti kolera, tipus dan desentri. Seduhan daun teh hijau dapat menurunkan kadar kolesterol, glukosa darah, mengurangi kerusakan hati dan mengurangi pertumbuhan jaringan kanker kelenjar mamae (Sundari et al. 2009). Selain kafein, katekin, dan antioksidan, teh hijau memiliki kandungan gizi berupa vitamin A, Vitamin B1, vitamin C, kalsium, dan fospor.
Meskipun teh diketahui memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, tetapi teh juha diketahui dapat menghambat penyerapan zat besi jika dikonsumsi pada waktu yang salah, seperti pada saat makan atau dalam jeda satu jam setelah makan. Penghambatan penyerapan ini karena salah satu jenis polifenol yang terkandung di dalam teh tersebut, yaitu tanin. Kebiasaan inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya anemia defisiensi besi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Wardiyah et al. (2013), teh hitam mampu menurunkan penyarapan besi lebih besar (± 70%) dibanding dengan teh hijau. Waktu yang tepat untuk minum teh adalah tidak diiringi dengan mengkonsumsi makanan lain yang merupakan sumber besi, baik dari hewani (heme) atau nabati (nonheme).